DUA PULUH : KITA #5


DUA PULUH : KITA


DUA PULUH : KITA - Meta diam tertunduk menatap ambal bercorak superman sedang terbang menyelamatkan anak kecil yang menjadi alas kami bertiga duduk. Aku ingat sekali saat pertama kali ke kamar kontrakannya ini. Meta menceritakan bahwa ambal itu sudah berumur sangat lama. Papanya membeli ambal itu saat Meta masih kelas tiga Sekolah Dasar. Awalnya ambal itu tak digunakan untuk duduk, melainkan di pajang di tembok kamar tidur Meta. Meta memang sangat mengidolakan superman kala itu. Meski ia perempuan dan mama papanya sering membelikan boneka. Ia mengidolakan superman karena selalu menolong orang-orang yang butuh pertolongan. Saat papanya punya waktu luang, mereka sekeluarga suka main superman-supermanan. Mang Jono, tukang kebun di rumah mereka sering disuruh memerankan penjahat yang menyandera Meta dan mamanya. Lalu papanya datang dengan kain panjang warna biru yang dililitkan di leher. Papanya adalah superman bagi Meta. Baik dalam permainan atau dalam kehidupan nyata. Meta anak tunggal. Mama dan papa sangat menyayanginya. Mereka selalu ada kapanpun Meta butuh sesuatu.


Masalah mulai muncul saat kedua orang tuanya kecelakaan dan papanya meninggal. Mamanya lumpuh hingga harus duduk di kursi roda. Hidup Meta dan mamanya berubah. Mereka kehilangan sosok superman yang mereka sayangi. Umur tiga belas tahun adalah awal Meta harus menjalani harinya dengan sepi. Dengan mamanya yang duduk di kursi roda dan kerjanya hanya melamun. Kelas dua SMA mamanya ikut menyusul papanya. Meta tak punya pilihan selain menjalani hidup dengan sepi. Lulus sekolah ia memutuskan hijrah dari Pekan Baru ke Medan. Ia ingin suasana baru. Berada di Pekan Baru dan menempati rumah mereka hanya akan membuatnya selalu teringat mama papanya. Jadilah rumahnya ditempati mang Jono dan istrinya. Sedang perkebunan kelapa sawit milik papanya diurus oleh om Dimas, adik mamanya. Saat pindah ke Medan dan menempati kamar kontrakan di daerah Padang Bulan, Meta membawa serta ambal itu agar dapat memandanginya saat ia merindukan kedua orang tuanya.

“Teh nya diminum dong Ta! Ntar keburu dingin lo.” aku dan Meta sama-sama tersadar dari lamunan kami saat mendengar ucapan Ribi.

“Iya Ta, apalagi udaranya lumayan dingin. Kan lumayan buat ngangetin badan.” ucapku, kemudian meraih gagang cangkir dan menyeruput teh buatan Ribi. Medan biasanya panas meski malam hari. Apalagi di daerah padat penduduk seperti daerah tempat kos yang kebanyakan kamarnya sempit dan pengap. Tapi malam ini lumayan dingin, mungkin sisah hujan deras tadi soreh yang juga berlanjut hingga jam sepuluhan tadi.

“Manis! Semanis orangnya!” candaku setelah menyeruput teh.

“Halah… aku tau apa maksudnya. Biar aku sering-sering buatin teh buat kamu kan?”

“Hehehe… tau aja si Ribi.”

“Tau lah, Ribi gitu loh hahaha…”

Meta masih diam. Masih menunduk, memandang ambal bermotif superman tempat kami duduk. Tawaku dan Ribi pun akhirnya berganti senyap. Kami berpandangan, mencari cara lain untuk mencairkan suasana.

Lepaskanlah.. ikatanmu
Dengan aku biar kamu tenang
Bila berat.. melupakan aku
Pelan-pelan saja…

Suara Tantri Kotak membawakan lagu berjudul Pelan-pelan Saja bergema dari ponselku. Meta dan Ribi memandang ke arahku. Kami bertiga tahu itu telfon dari siapa. Kubiarkan ponselku meraung-raung di atas tempat tidur Meta tanpa berniat mengangkatnya.

“Kenapa nggak diangkat Za?” kuucap hamdalah dalam hati karena suara itu datangnya dari Meta.

“Males Ta.”

“Kasian tuh si Rudy, ada perlu penting mungkin.”

“Ah paling juga nanya udah tidur belum.” sengaja aku tak mengangkat telfon dari Rudy, pria yang sudah berkali-kali kutolak namun masih juga tak menyerah mengejarku. Bukan karena tak ingin mengangkatnya, tapi ingin mendengar Meta mengucapkan kalimat-kalimatnya lagi. Malam ini suaranya seakan suara penyanyi terkenal dan kami harus membayar mahal jika ingin mendengar suaranya.

“Memangnya dia sering nelfon kamu jam segini Za?” pertanyaan kali ini datang dari Ribi.

“Lumayan sering.. eh iya emang ini jam berapa?”

Serentak pandangan kami beralih ke jam dinding di tembok sebelah kiri kamar Meta.

“Jam satu”

“Hmm.. pantas. Rudy memang sering nelfon antara jam dua belas sampe jam satu.”

“Nanyain apa?”

“Biasalah, dia nanya aku udah pulang belum, kalo udah pulang udah tidur belum. Nggak ada pertanyaan special.”

“Mungkin dia pikir kau kerja kali.”

“Iyalah.”

Pembicaraan terhenti. Kembali aku dan Ribi berpandangan.

Untuk kedua kalinya kami mendengar suara Tantri Kotak dari handphone ku. Lumayan, pikirku dalam hati. Setidaknya ada bahan untuk diperbincangkan. Kembali aku sengaja tak mengangkat telfon. Berharap Meta buka suara. Namun sampai suara Tantri lenyap bersama dingin udara malam, Meta masih diam.
Suara Tantri untuk ketigaa kalinya. Tak juga Meta buka suara. Aku menarik napas panjang.

“Maaf ya Za, gara-gara aku kau jadi bolos kerja. Maaf juga ya Bi, kau pasti tak terbiasa terjaga selarut ini.” akhirnya suara lemah Meta kami dengar setelah keempat kali Tantri Kotak kuabaikan. Tangannya mengelus pinggiran gelas berisi teh di hadapanya. Namun tetap tak meminumnya.

“Santai aja kali Ta.”

“Aku sudah banyak merepotkan kalian. Masak aku mau santai-santai saja.”

“Ya elah Ta, kayak kita nggak pernah ngerepotin kamu aja. Nggak usah pake acara segan-segan gitu lah. Siapa lagi orang yang akan kita repotkan kalau bukan sahabat kita sendiri. Emang kamu mau ngerepotin orang yang baru kamu kenal. Yang nggak kamu tau gimana sifatnya?”

“Bener yang dibilang Ribi Ta. Kalau kita sudah berani merepotkan seseorang, berarti jalinan di antara orang tersebut udah dekat. Udah nggak perlu canggung-canggung lagi. Kami juga seneng kok direpotin ama kamu. Itu artinya kamu nganggep kami orang yang deket ama kamu.”


“Tapi kita juga belum kenal lama. Aku belum tau kalian seperti apa? Maaf ya, udah lancang merepotkan kalian. Aku nggak tau mau ngomong ke siapa.”

Suara Meta tercekat di ujung kalimat. Matanya berkaca-kaca. Aku dan Ribi mendekat. Mengambil tempat duduk di samping kiri-kanannnya. Mengusap-usap pundaknya. Ribi menggenggam tangan kiri Meta yang dingin.

“Kamu tau nggak Ta? Terkadang rasa memang tak tercerna oleh pikiran kita. Kalau dipikir-pikir kita memang baru sebentar kenal. Tapi coba deh tanya hatimu, gimana hatimu menganggapku. Menganggap Ribi dan kawan-kawan laen.”

“Aku seperti mendapat keluarga baru.”

“Trus?”

“Aku jadi punya keluarga tempat aku merajut tawa. Entahlah, aku seperti sudah dekat sama kalian.”

“Kamu bener Ta. Cuma yang perlu aku tambahin lagi, nggak cuma merajut tawa Ta. Tapi juga menjahit kembali tawa yang terkoyak oleh duka.”

Mata yang tadi berkaca-kaca itu kini mengeluarkan butiran bening dari sudutnya. Membentuk anak sungai di pipi yang putih mulus dan pucat. Pemilik air mata itu menarik bibirnya. Meta tersenyum. Ah, bahagia aku melihat senyumnya. Meski aku tahu, di bagian hatinya yang lain ia tengah  menangis.

Ia mulai terisak. Dilabuhkannya kepalanya ke pelukan Ribi.

“Bagi dukamu Ta!” Ribi berkata pelan. Tangis Meta pecah.

“Lepaskan Ta, luahkan semuanya biar bebanmu berkurang. Jangan ditahan.” ucapku sambil juga memeluknya. Meta semakin terguguh dalam pelukan kami.
*

“Tak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiranku kalau mang Jono akan sejahat itu padaku. Orang yang dulu sering disuruh papa menjadi penjahat saat kami main superman-supermanan itu ternyata benar-benar menjadi penjahat yang menyekap tawaku selamanya. Dan aku tak punya superman lagi untuk menolongku.”

Meta mengawali cerita dukanya dengan airmata menganak sungai di pipinya. Tangannya  kini tak mengusap-usap pinggiran gelas teh yang tadi sudah habis di minumnya. Kini ia memeluk kedua lututnya, menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Seminggu sebelum aku berangkat ke Medan. Istrinya pamit pulang kampung. Kami tinggal bertiga dengan anak perempuannya yang berumur sepuluh tahun. Waktu itu jam sembilan malam. Aku sangat letih baru pulang jalan-jalan dengan teman SMA ku. Ia menawarkan membuatkanku jus al pukat. Aku tak berpikiran kalau niat baiknya ternyata hanya topeng. Ia sengaja memberi obat perangsang di jus tersebut. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tau-tau saat aku terbangun kami sudah di atas ranjangku. Tanpa busana.”

Aku tak mampu berkata-kata mendengar cerita Meta. Ah Meta, berat nian cobaan hidupmu. Sebatang kara dan harus mengandung anak buah kebiadaban pria tak tahu diri.

“Mang Jono pernah meminta maaf saat aku hendak berangkat ke Medan. Ia mengaku menyesal. Tapi apa penyesalan itu cukup? Ia sudah membuat tawaku yang hanya hadir sesekali harus benar-benar lenyap. Aku tak punya alasan untuk tertawa lagi sejak kejadian itu. Dan ia dengan mudah mengatakan menyesal. Aku meninggalkannya saat ia mencoba menahanku dengan bersujud.”

“Sekarang?”

“Dua bulan yang lalu aku mendengar kabar dari om Dimas kalau mayatnya ditemukan terapung di sungai. Di rumah kami ditemukan surat tulisan tangan mang Jono. Surat permohonan maaf pada orang-orang yang sudah ia sakiti. Surat itu khusus ditujukan untuk seseorang yang telah ia renggut tawa ¬nya. Hingga kini tak ada yang tahu siapa orang itu. Tapi aku tahu yang dimaksud adalah aku.”

“Astaghfirullah…”

“Dan sebulan yang lalu aku menyadari kalau haidku tak lagi datang.” Meta berucap miris. Tangannya mendekap erat lututnya.

“Yang sabar ya Ta.”

Meta tertawa mendengar ucapanku.

“Sabar?! Aku tak tau lagi bagaimana cara bersabar. Kalaupun aku memilih diam menjalani hariku bukan karena aku sabar, tapi aku sudah kehilangan cara untuk menggugat Tuhan.”


“Ta…  jangan pernah berpikiran seperti itu.”

“Aku sengaja melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Aku sholat lima waktu. Bahkan dhuha dan tahajjud pun selalu kulakukan. Semua itu hanya untuk satu hal. Aku hanya ingin Tuhan menjawab, kenapa Dia sejahat itu padaku?!”

“Sstt.. Ta, berhenti berpi…”

“Bagaimana aku bisa berhenti berpikiran kalau Dia jahat sementara Dia tak pernah berhenti untuk terus merebut tawaku. Hingga aku benar-benar tak mampu lagi tertawa bahkan menangis. Aku lupa bagaimana cara tertawa. Aku lupa hahaha…hiks..hiks..”

Aku merinding mendengar tawa Meta di antara tangisnya. Tak ada yang dapat kami lakukan selain memeluknya. Berharap pelukan tulus kami dapat meredakan semua kemarahannya. Aku paham pelukan kami masih kurang dibanding kepedihan yang ia alami sejak kecil hingga sekarang. Tapi setidaknya dapat mengurangi kepedihannya.

“Sejak kecil aku tak pernah melihat kakek nenek  dari ibuku. Sedang kakek nenek dari papaku sekalipun tak pernah mengunjungi kami. Aku hanya tau dari fotonya. Aku tak pernah protes pada Tuhan karena meski aku tak tahu seperti apa kakek nenekku tapi aku punya papa dan mama. Supermanku. Tapi Tuhan malah mengambil papa. Dan sampai papa meninggal kakek dan nenek tak juga memaafkan papa yang mereka anggap salah karena telah menikahi mama. Hidupku sepi. Hanya melalui hari berteman mama di kursi roda. Tapi aku tak juga berniat protes pada Tuhan. Sampai akhirnya Dia juga memanggil mama. Lalu mengirim iblis untuk merasuki mang Jono yang brengsek itu. Aku hina dan harus sendiri menjalani hidupku. Apa aku tidak boleh marah pada-Nya?!!”

Sungguh aku tak tahu harus berkata apa menghadapi Meta yang tengah dirasuki emosi. Kupikir selama ini hidupku yang paling berat. Tapi Meta ternyata menanggung beban jauh lebih berat dari beban hidupku yang selalu berkisar pada masalah finansial. Meta, jiwanya sakit oleh luka yang terus-menerus mendera.  Dan ia harus menjalani semuanya sendiri. Selama ini. Ah, Tuhan! Beritahu aku cara menghibur sahabatku ini.

Bersambung...

DUA PULUH : KITA adalah karya kolaborasi antara Diah Siregar dan Rinda Dinamita
Share on Google Plus

About nebula

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar :

  1. Balasan
    1. terima kasih mbak, baca juga dari part 1 nya supaya nggak ketinggalan cerita ;)

      Hapus
  2. Karya kolaborasi yang keren. Boleh dunk minta di ajarin cara buat cerpen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank you mas hehhee...

      saya kalau ngajari nggak pinter mas, soalnya kalau nulis nggaj mikir teori nulis cerpen harus gini atau gitu. apa yang terlintas aja yg ditulis :)

      Hapus

komentar yg membangun yach..

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com